Selasa, 04 Agustus 2015

My Perfection



“Harapanku telah sirna. Hidupku hancur. Aku, siapakah aku?. Hanya wanita murahankah diriku? Entah apalagi yang harus kulakukan nanti”


-Chansung POV-

Aku terbangun melihat handphoneku dan banyak bbm masuk. Tak sempat kubuka dan langsung menuju kamar mandi. Aku melepas bajuku dan mandi. “ahhhh… segarnyaaa… andaikan ada yang menemaniku mandi disini sekarang” ucapku pelan sambil mengusap dadaku yang lumayan bidang. Aku harus menuju ke kantor cepat cepat kalau tidak appa pasti memarahiku habis habisan. Segera aku memakai setelan kemeja biru muda dan jas biru tua, celana kerja dan sepatu selop andalanku.

-Bora POV-
     “kenapa dia tak membalas bbmku?”, aku ngedumel daritadi menunggu balasan bmmnya. Kenapa dia tak membalas dari semalam, apa dia sedang bersama pacarnya Liu Yan? Apa dia mabuk? Apa yang dilakukannya semalam?. Pertanyaan demi pertanyaan tersirat di benakku. Aku takut dia kenapa kenapa. Tapi aku berusaha positive thinking dan terus berdoa demi keselamatannya.
-Chansung POV-
     Aku sampai di hall perusahaan dan kulihat sesosok siluet yang kukenal. “Bora-ah Yoon Boraa…” teriakku kepadanya. Dia hanya melengos dan tetap berjalan lurus melewatiku. Aku mengikutinya sampai di depan lift dan menarik tangannya, “hyaa… aku memanggilmu tadi, apa kau tak mendengarya?” tanyaku di dekat telinganya. “aku dengar” jawabnya sinis. Aku sedikit bingung dengannya. “ada apa dengannya?” gumamku dalam hati.
-Bora POV-
     “Kau pikir aku tak bisa mengacangimu juga, huh?” gerutuku dalam hati. Aku masih sebal dia tak menjawab bbmku semalam. Aku yang khawatir padanya malah dianggap enteng. Memangnya kalau aku hanya sekertarisnya aku tak butuh kabar darinya. Dia juga tahu aku suka padanya, dia juga begitu padaku, namun dia telah berpacaran dengan Liu Yan yang dijodohkan appanya dengannya setahun lalu. Ya bisa dibilang aku selingkuhannya. Tapi dia berjanji akan segera memutuskan Liu Yan dan menikahiku (kuharap secepatnya,amin). Aku masuk lift dan berusaha menghindari gombalannya.
-Chansung POV-
     Aku yang bingung langsung mengeluarkan jurus andalanku yaitu gombalan jitu. “Bora-ah, kenapa kau cemberut begitu? Kalau kau cemberut cantikmu hilang, dan mukamu seperti marmut merah” kataku sambil memegangi kedua pundaknya yang kecil. Yang sebelumnya aku yakin ini berhasil sekarang berubah menjadi kegusaran. Dia tak kunjung tersenyum. “sayang, kau kenapa hum? Kau marah padaku? Kenapa?” tanyaku memelan. Tak sadar ternyata kami sudah berada di ruanganku yang tepat bersebelahan dengan ruangannya.
-Bora POV-
     Aku sedikit lega dia memanggilku sayang tadi, tapi rasaku harus kutahan demi dia meminta maaf padaku. Aku langsung berjalan ke ruanganku. Dia menarik tanganku dan menuju ke ruangannya. Tak ada yang bisa kulakukan selain mengikutinya karena aku takut ada orang lain yang melihatnya. Dia memasukkanku kedalam ruangannya dan medekapku di tubuhnya yang menenggelamkanku di pelukannya. “bora-ah, sayangku, kau kenapa?” tanyanya saat melepas pelukannya. Entah kenapa disaat begini hatiku langsung luluh dan berkaca kaca. “aku tak apa apa” jawabku singkat.
-Chansung POV-
     Aku tak tega melihat wanita berkaca kaca dengan tubuh lemah begini. “sayang” ucapku lirih. Melihat bibir manisnya aku tak tahan, langsung saja kucium dan kulumat perlahan. “mmhh” ucapnya menikmatinya juga. Dia melumat kembali bibir bawahku secara ganas dan aku juga semakin keranjingan. Dia membuka mulutnya seakan tau maksudku. Lidahku menjelajahi isi mulutnya dan kami saling bertukar saliva. Milikku berdiri tegak sedari tadi.
-Bora POV-
     Ciuman. Hal yang paling tak bisa kuhindari darinya. Bibirnya sangat eksotis dan membuatku lupa akan kemarahanku. Dia melumatku sampai bibirku merah. Dia mulai menjelajahi leherku dan menciumiku. Kissmark dibuatnya dimana mana yang menandakan aku miliknya. Aku tak tahan dan kutarik dia ke sofa di ruangannya. Untungnya pintu sudah terkunci otomatis. Dia membuka blazer pendekku dan membuka bajuku. Dia meremas dadaku dan menciuminya. Aku membuka jasnya dan hemnya. Kuraba dada bidangnya. Benar benar bidang dan besar.
-Chansung POV-
     Kurasa di sudah mulai luluh. Dia ikut kedalam drama permainanku. Sekarang saatnya dimulai. Kubuka blazer dan meremas dadanya yang lumayan besar menurutku. Aku tak dapat menahannya. Dia juga mulai membuka celanaku dan meraba miliku yang sedari tadi butuh belaian yeoja. “chagiaahh… saranghae” ucapku sambil meneruskan remasanku. “ne oppa, saranghaeyo” ucapnya lirih. Aku cukup lega mendengarnya berkata begitu. Namun pertanyaan kenapa dia tadi marah yang masih mengelilingi kepalaku sontak hilang karena belaiannya kepada milikku sangat membuatku nyaman.
-Bora POV-
     Aku tergiur oleh permainannya. Bodynya yang benar benar HOT membuatku tergila gila padanya. Kuremas miliknya dan dia merasakan kenikmatan tanpa henti. Aku berharap ada sesuatu yang keluar dari sana. Dia yang benar benar tak tahan menggendongku layaknya bridal menuju ke kamar di ruangannya. Dia membuka seluruh bajuku dan memulai aksi panasnya tanpa takut sedikitpun. Dia meraba vaginaku dan memasukkan jarinya kedalam. “ahh oppaaahh… nngghhh sakitthh…” ucapku yang keskitan namun juga merasakan nikmat.
-Chansung POV-
     Aku benar benar tergoda olehnya. Kumasukkan dua jariku kedalam vaginanya. Terus kumasukkan sampai ke g-spotnya. Benar benar nikmat. Dia menjambak rambutku dan menginginkan jrku masuk ke vaginanya. Kulakukan apa yang dia minta. Ku kocok jrku sebentar lalu kumasukkan ke vaginanya. Kukocok pelan di dalam vaginanya. “nnggghh chaggiihh fasterhh…” desahannya membutatku gila. Sontak langsung kukocok lebih cepat dan cepat. Aku tau dia klimaks dan aku juga begitu. Seketika ranjang itu basah dan membuatku melepaskan jrku dari vaginanya.
-Bora POV-
     Aku tau dia serba bisa dalam urusan sex. Dia benar benar membuatku terkesima dengannya. Servicenya padaku sangat berbeda. Kepalanya mulai menuju ke vaginaku. Dia menciumi selangkanganku dan mulai menjilati di daerah itu. Aku merasakan lidahnya menjelajahi vaginaku mulai dari luar hingga ke klitrosinku. Digigitnya pelan dan menjilati seluruh isi vaginaku. “sshhh ahhh mmhhh…” desahanku mulai membara. Nikmat tiada tara, itulah yang kurasakan. Cairanku mulai keluar lagi dan namjachingu-ku ini tak henti menjilatinya.
-Chansung POV-
     Benar benar seperti disurga rasanya. Aku tak hanya ingin memuaskannya, aku juga ingin dipuaskan. Kurubah posisi menjadi 69. Dia memegangi jrku dan aku membuka pantatnya. Kuremas dan kuamasukkan jariku. Dia juga mulai menjilati jrku pelan. Langkah pelan tapi pasti yang diambilnya. Dia memasukkan ujung jrku kedalam mulutnya dan dikocoknya pelan. Aku juga memasukkan lidahku ke sela vaginanya. Kumainkan memek dan kumasukkan hingga g-spotnya. Apapun rasanya yang kurasakan hanya manis dan lebih manis dari sekarung gula.
-Bora POV-
     Nikmat tak tertahanan. Aku juga mulai beringas mengocok jrnya dan membuatnya merasakan nikmat. Besar sekali miliknya hingga mulutku harus terbuka lebar. Baru kulihat jr sebesar ini. Bahkan di film bokep juga tak sebesar ini. Dia klimaks dan aku juga untuk kedua kalinya kami klimaks. Aku menjilatin spermanya dan dia menjilati cairanku. Sungguh sesuatu yang tak pernah ia lakukan sebelumnya padaku. Aku mulai lelah.
-Chansung POV-
     Kurasa dia mulai lelah. Aku bangkit dan membuatnya kembali pada posisi sebelumnya. Aku dan dia memakai baju kembali. Aku terbaring lagi di sampingnya sampai kami benar benar tertidur.
-Bora POV-
     Aku terlelap hingga pagi. Aku bangun dan melihat jam sekitar pukul 06:30 pagi. Kucari dia di seluruh ruangannya. Hanya secarik kertas yang kutemukan dan langsung aku terkulai lemas bersimbah air mata. Begini isi suratya :
   Bora sayangku, maafkanku pergi tanpa memberitahumu sebelumnya. Aku harap kejadian kemarin telah membuatmu bahagia. Aku harus pergi sekarang ke New York untuk menepati janjiku pada appa-ku yaitu menikah dengan Liu Yan. Aku tau kau takkan pernah memaafkanku sampai kapanpun. Tapi jangan khawatir, biaya hidupmu dan jika kau hamil nanti akan ku tanggung. Namun berjanjilah tetap rahasiakan anak itu dan hubungan kita berdua. Kirimlah surat ke sekertaris pribadiku jika butuh uang berapapun yang kau minta. Kuharap kau dapat mengerti kondisiku. Jika semuanya sudah berakhir aku akan kembali padamu. Terimakasi sayangku Yoon Bora. Aku mencintaimu.

Hwang Chansung
5 tahun kemudian………………
-Bora POV-
     Sudah selama ini aku menunggunya. 5 tahun bukan waktu yang sebentar. Apalagi ditambah monster kecil kesayanganku Yoon Chan Gu. Hasil perkawinanku dengan Chansung 5 tahun lalu. Aku semakin gundah dengan pertumbuhannya. Dia selalu bertanya siapa ayahnya, dimana ayahnya. Dan hari ini dia bertanya lagi, “eomma-ni… aku ingin dijemput oleh appa sama seperti temanku yang lain. Apa appa tidak bisa pulang walau hanya 1 hari saja?”. Aku memeluknya dan menangis. “Yoon Chan… sayangku, bukankah eomma bilang, appamu sedang berada di amerika. Dia belum bisa pulang. Kenapa kau selalu bertanya begitu” jawabku lemah.
-Author POV-

     Begitulah kehidupan Yoon Bora bersama dengan putra semata wayangnya. Menyesal. Hanya itu yag dapat dia rasakan. Mengapa dia sanagt bodoh sampai mau melakukan hal itu dengan calon suami orang lain. Tapi nasi telah menjadi bubur. Tak aka nada yang bisa memutar waktu kembali. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar