My Perfection
“Harapanku telah sirna. Hidupku hancur. Aku, siapakah aku?. Hanya
wanita murahankah diriku? Entah apalagi yang harus kulakukan nanti”
-Chansung POV-
Aku terbangun
melihat handphoneku dan banyak bbm masuk. Tak sempat kubuka dan langsung menuju
kamar mandi. Aku melepas bajuku dan mandi. “ahhhh… segarnyaaa… andaikan ada
yang menemaniku mandi disini sekarang” ucapku pelan sambil mengusap dadaku yang
lumayan bidang. Aku harus menuju ke kantor cepat cepat kalau tidak appa pasti
memarahiku habis habisan. Segera aku memakai setelan kemeja biru muda dan jas
biru tua, celana kerja dan sepatu selop andalanku.
-Bora POV-
“kenapa
dia tak membalas bbmku?”, aku ngedumel daritadi menunggu balasan bmmnya. Kenapa
dia tak membalas dari semalam, apa dia sedang bersama pacarnya Liu Yan? Apa dia
mabuk? Apa yang dilakukannya semalam?. Pertanyaan demi pertanyaan tersirat di
benakku. Aku takut dia kenapa kenapa. Tapi aku berusaha positive thinking dan
terus berdoa demi keselamatannya.
-Chansung POV-
Aku
sampai di hall perusahaan dan kulihat sesosok siluet yang kukenal. “Bora-ah
Yoon Boraa…” teriakku kepadanya. Dia hanya melengos dan tetap berjalan lurus
melewatiku. Aku mengikutinya sampai di depan lift dan menarik tangannya, “hyaa…
aku memanggilmu tadi, apa kau tak mendengarya?” tanyaku di dekat telinganya.
“aku dengar” jawabnya sinis. Aku sedikit bingung dengannya. “ada apa
dengannya?” gumamku dalam hati.
-Bora POV-
“Kau
pikir aku tak bisa mengacangimu juga, huh?” gerutuku dalam hati. Aku masih
sebal dia tak menjawab bbmku semalam. Aku yang khawatir padanya malah dianggap
enteng. Memangnya kalau aku hanya sekertarisnya aku tak butuh kabar darinya.
Dia juga tahu aku suka padanya, dia juga begitu padaku, namun dia telah
berpacaran dengan Liu Yan yang dijodohkan appanya dengannya setahun lalu. Ya
bisa dibilang aku selingkuhannya. Tapi dia berjanji akan segera memutuskan Liu
Yan dan menikahiku (kuharap secepatnya,amin). Aku masuk lift dan berusaha
menghindari gombalannya.
-Chansung POV-
Aku
yang bingung langsung mengeluarkan jurus andalanku yaitu gombalan jitu.
“Bora-ah, kenapa kau cemberut begitu? Kalau kau cemberut cantikmu hilang, dan
mukamu seperti marmut merah” kataku sambil memegangi kedua pundaknya yang
kecil. Yang sebelumnya aku yakin ini berhasil sekarang berubah menjadi
kegusaran. Dia tak kunjung tersenyum. “sayang, kau kenapa hum? Kau marah
padaku? Kenapa?” tanyaku memelan. Tak sadar ternyata kami sudah berada di
ruanganku yang tepat bersebelahan dengan ruangannya.
-Bora POV-
Aku
sedikit lega dia memanggilku sayang tadi, tapi rasaku harus kutahan demi dia
meminta maaf padaku. Aku langsung berjalan ke ruanganku. Dia menarik tanganku
dan menuju ke ruangannya. Tak ada yang bisa kulakukan selain mengikutinya
karena aku takut ada orang lain yang melihatnya. Dia memasukkanku kedalam
ruangannya dan medekapku di tubuhnya yang menenggelamkanku di pelukannya.
“bora-ah, sayangku, kau kenapa?” tanyanya saat melepas pelukannya. Entah kenapa
disaat begini hatiku langsung luluh dan berkaca kaca. “aku tak apa apa” jawabku
singkat.
-Chansung POV-
Aku
tak tega melihat wanita berkaca kaca dengan tubuh lemah begini. “sayang” ucapku
lirih. Melihat bibir manisnya aku tak tahan, langsung saja kucium dan kulumat
perlahan. “mmhh” ucapnya menikmatinya juga. Dia melumat kembali bibir bawahku
secara ganas dan aku juga semakin keranjingan. Dia membuka mulutnya seakan tau
maksudku. Lidahku menjelajahi isi mulutnya dan kami saling bertukar saliva.
Milikku berdiri tegak sedari tadi.
-Bora POV-
Ciuman.
Hal yang paling tak bisa kuhindari darinya. Bibirnya sangat eksotis dan
membuatku lupa akan kemarahanku. Dia melumatku sampai bibirku merah. Dia mulai
menjelajahi leherku dan menciumiku. Kissmark dibuatnya dimana mana yang
menandakan aku miliknya. Aku tak tahan dan kutarik dia ke sofa di ruangannya.
Untungnya pintu sudah terkunci otomatis. Dia membuka blazer pendekku dan
membuka bajuku. Dia meremas dadaku dan menciuminya. Aku membuka jasnya dan
hemnya. Kuraba dada bidangnya. Benar benar bidang dan besar.
-Chansung POV-
Kurasa
di sudah mulai luluh. Dia ikut kedalam drama permainanku. Sekarang saatnya
dimulai. Kubuka blazer dan meremas dadanya yang lumayan besar menurutku. Aku
tak dapat menahannya. Dia juga mulai membuka celanaku dan meraba miliku yang
sedari tadi butuh belaian yeoja. “chagiaahh… saranghae” ucapku sambil
meneruskan remasanku. “ne oppa, saranghaeyo” ucapnya lirih. Aku cukup lega
mendengarnya berkata begitu. Namun pertanyaan kenapa dia tadi marah yang masih
mengelilingi kepalaku sontak hilang karena belaiannya kepada milikku sangat membuatku
nyaman.
-Bora POV-
Aku
tergiur oleh permainannya. Bodynya yang benar benar HOT membuatku tergila gila
padanya. Kuremas miliknya dan dia merasakan kenikmatan tanpa henti. Aku
berharap ada sesuatu yang keluar dari sana. Dia yang benar benar tak tahan
menggendongku layaknya bridal menuju ke kamar di ruangannya. Dia membuka
seluruh bajuku dan memulai aksi panasnya tanpa takut sedikitpun. Dia meraba
vaginaku dan memasukkan jarinya kedalam. “ahh oppaaahh… nngghhh sakitthh…”
ucapku yang keskitan namun juga merasakan nikmat.
-Chansung POV-
Aku
benar benar tergoda olehnya. Kumasukkan dua jariku kedalam vaginanya. Terus
kumasukkan sampai ke g-spotnya. Benar benar nikmat. Dia menjambak rambutku dan
menginginkan jrku masuk ke vaginanya. Kulakukan apa yang dia minta. Ku kocok
jrku sebentar lalu kumasukkan ke vaginanya. Kukocok pelan di dalam vaginanya.
“nnggghh chaggiihh fasterhh…” desahannya membutatku gila. Sontak langsung
kukocok lebih cepat dan cepat. Aku tau dia klimaks dan aku juga begitu.
Seketika ranjang itu basah dan membuatku melepaskan jrku dari vaginanya.
-Bora POV-
Aku
tau dia serba bisa dalam urusan sex. Dia benar benar membuatku terkesima
dengannya. Servicenya padaku sangat berbeda. Kepalanya mulai menuju ke
vaginaku. Dia menciumi selangkanganku dan mulai menjilati di daerah itu. Aku
merasakan lidahnya menjelajahi vaginaku mulai dari luar hingga ke klitrosinku. Digigitnya
pelan dan menjilati seluruh isi vaginaku. “sshhh ahhh mmhhh…” desahanku mulai
membara. Nikmat tiada tara, itulah yang kurasakan. Cairanku mulai keluar lagi
dan namjachingu-ku ini tak henti menjilatinya.
-Chansung POV-
Benar
benar seperti disurga rasanya. Aku tak hanya ingin memuaskannya, aku juga ingin
dipuaskan. Kurubah posisi menjadi 69. Dia memegangi jrku dan aku membuka pantatnya.
Kuremas dan kuamasukkan jariku. Dia juga mulai menjilati jrku pelan. Langkah
pelan tapi pasti yang diambilnya. Dia memasukkan ujung jrku kedalam mulutnya
dan dikocoknya pelan. Aku juga memasukkan lidahku ke sela vaginanya. Kumainkan
memek dan kumasukkan hingga g-spotnya. Apapun rasanya yang kurasakan hanya
manis dan lebih manis dari sekarung gula.
-Bora POV-
Nikmat
tak tertahanan. Aku juga mulai beringas mengocok jrnya dan membuatnya merasakan
nikmat. Besar sekali miliknya hingga mulutku harus terbuka lebar. Baru kulihat
jr sebesar ini. Bahkan di film bokep juga tak sebesar ini. Dia klimaks dan aku
juga untuk kedua kalinya kami klimaks. Aku menjilatin spermanya dan dia
menjilati cairanku. Sungguh sesuatu yang tak pernah ia lakukan sebelumnya padaku.
Aku mulai lelah.
-Chansung POV-
Kurasa
dia mulai lelah. Aku bangkit dan membuatnya kembali pada posisi sebelumnya. Aku
dan dia memakai baju kembali. Aku terbaring lagi di sampingnya sampai kami
benar benar tertidur.
-Bora POV-
Aku
terlelap hingga pagi. Aku bangun dan melihat jam sekitar pukul 06:30 pagi.
Kucari dia di seluruh ruangannya. Hanya secarik kertas yang kutemukan dan
langsung aku terkulai lemas bersimbah air mata. Begini isi suratya :
Bora sayangku, maafkanku
pergi tanpa memberitahumu sebelumnya. Aku harap kejadian kemarin telah
membuatmu bahagia. Aku harus pergi sekarang ke New York untuk menepati
janjiku pada appa-ku yaitu menikah dengan Liu Yan. Aku tau kau takkan pernah
memaafkanku sampai kapanpun. Tapi jangan khawatir, biaya hidupmu dan jika kau
hamil nanti akan ku tanggung. Namun berjanjilah tetap rahasiakan anak itu dan
hubungan kita berdua. Kirimlah surat ke sekertaris pribadiku jika butuh uang
berapapun yang kau minta. Kuharap kau dapat mengerti kondisiku. Jika semuanya
sudah berakhir aku akan kembali padamu. Terimakasi sayangku Yoon Bora. Aku
mencintaimu.
Hwang Chansung
|
5 tahun kemudian………………
-Bora POV-
Sudah
selama ini aku menunggunya. 5 tahun bukan waktu yang sebentar. Apalagi ditambah
monster kecil kesayanganku Yoon Chan Gu. Hasil perkawinanku dengan Chansung 5
tahun lalu. Aku semakin gundah dengan pertumbuhannya. Dia selalu bertanya siapa
ayahnya, dimana ayahnya. Dan hari ini dia bertanya lagi, “eomma-ni… aku ingin
dijemput oleh appa sama seperti temanku yang lain. Apa appa tidak bisa pulang
walau hanya 1 hari saja?”. Aku memeluknya dan menangis. “Yoon Chan… sayangku,
bukankah eomma bilang, appamu sedang berada di amerika. Dia belum bisa pulang. Kenapa
kau selalu bertanya begitu” jawabku lemah.
-Author POV-
Begitulah
kehidupan Yoon Bora bersama dengan putra semata wayangnya. Menyesal. Hanya itu
yag dapat dia rasakan. Mengapa dia sanagt bodoh sampai mau melakukan hal itu
dengan calon suami orang lain. Tapi nasi telah menjadi bubur. Tak aka nada yang
bisa memutar waktu kembali.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar